Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Kesempatan Kedua

3726 mdpl Rinjani

Murni ini bukan dendam yang tersimpan, tidak pantas sepertinya mendendam pada gunung yang menjulang agung. Bukan Gunung yang menyebabkan aku limpung, tapi jiwa ini yang sudah kalah bertarung dengan lelahnya ragawi.

Ini merupakan kesempatan kedua, sesuatu yang langkanya seperti melihat elang jawa terbang bebas di kota-kota. Sebuah hadiah dari semesta, terdiri dari campuran cuaca cerah, waktu sela, dan bumbu-bumbu kebetulan yang menjadi berkah. Sepertinya hari itu Tuhan sedang tersenyum.

Perjalanan yang harus diulang lagi mulai pintu gerbang menuju pelawangan. Berjalan malam dengan kedinginan, atau berjalan siang dihajar panas, debu dan batuan.

Menu makanan yang juga harus diulang lagi berhari-hari tanpa kenal bosan, nasi campur makanan instan dan kalengan.

Muncak, perjalanan malam yang harus diulang juga. Dengan rute malam panjang, jalur pasir bebatuan, angin dingin yang setajam pedang, dan punggung gunung yang terlihat semakin melambung.

Sampai juga aku di batu besar itu, aku melihat punggungku yang kemarin berjalan pulang. Tidak untuk kali ini, aku dan masa lalu kini saling berlawanan. Yang dulu berjalan pulang, tapi yang sekarang maju ke depan. Setapak demi setapak, berpijak pada pasir yang menolak untuk dipijak.Tidak peduli pada raga yang menjerit ingin pulang, karena hati ini begitu ingin menang.

Akhirnya,

Aku sampai di tempat dimana setahun lalu aku terkulai. Puncak Rinjani 3726 mdpl.

Ternyata aku juga bisa.

Tidak ada rasa sehebat hadiah tunggal untuk perjuangan dua kali.

Seperti ada wajah di balik topeng ini, hanya kali ini aku melihat wajahku sendiri. Tersenyum puas pulas.

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *