Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Camellia

Café ini, malam ini dan meja ini. Pertama aku bertemu dengannya. Kamis 6 tahun lalu, langkahku menuntun kesini, satu-satunya café terdekat dengan fasilitas internet,  kenyamanan sofa,  dan musik yang mengalun manja membuatku rela berjam-jam membakar logika. Pekerjaanku membutuhkan akses ke ranah maya, bertemu klien dari manca tanpa tatap muka sudah biasa. Aku seorang programmer lepas, asal ada upah, ak dipekerjakan siapa saja bebas. Ditengah kesibukanku merangkai  kode dan logika, seorang wanita menghampiriku, rambut ekor kuda, mata bulat lengkap dengan  lesung pipi. Dia meminta duduk di mejaku. Kulihat sekilas seluruh meja, memang sedang penuh riuh. Apa salahnya, toh mejaku terlalu besar untuk kukuasai sendirian. Kusambut sodoran tangannya sambil berucap nama

“Camellia”

“Satria”

Pramusaji dipanggilnya, dipesannya Camelia Green, nama komersial untuk teh hijau. 15 menit minuman tersedia, diantar pramusaji lengkap dengan gelas hijau dan satu set pemanis gula. Dia mencium aromanya, kemudian meminumnya tanpa sedikitpun menambahkan gula.

“Kau pasti bercanda, minum minuman dengan namamu tanpa gula ? Apa itu enak ?”

“Tergantung persepsi enak itu apa, jika enak berarti manis, maka bisa dipastikan kita beda dunia”

Menarik, jawaban yang luas dan terdidik. Kita mulai bertukar kisah lama. Dia bilang dia menemukan takdirnya saat SMP tahun pertama, pelajaran biologi jam ketiga. Ketika guru menjelaskan susunan penamaan mahkluk hidup dunia, Kingdom – Filum – Divisio – Classis – Ordo – Famili – Genus sampai Spesies. Dan teh ketiban sial dijadikan contohnya, dia menemukan panggilan jiwanya ketika namanya disebut sama. Nama yang menggambarkan keseluruhannya, apa yang dipikirkan orang tuanya sampai memberikan nama sama dengan tumbuhan. Ya! Camellia sinensis nama sains untuk teh. Klasifikasi ilmiah macam itu, mana mungkin meninggalkan residu di otakku? Manggut-manggut dan pura-pura mengerti saja ketika dia berceloteh tentang kisahnya.

Panggilan jiwanya membuatnya menjadi maniak, memburu data dan informasi kembarannya. Mulai dari teh botol sampai instan, teh hijau sampai hitam pernah mampir dikecapnya. Proses pemetikan, fermentasi dan penyeduhan dia mengerti sampai detailnya, dan sempurna saat prakteknya. Bahkan dia punya kebun teh mini dalam rumahnya, memanfaatkan pendingin ruangan sebagai ganti udara  pegunungan.

Dia memang aneh, tapi entah kenapa aku suka. Pertemuan demi pertemuan semakin mengasah ketertarikan kita. Suatu kala aku menyatakan cinta, dan dia menerima apa adanya. Kita bersama, saling memperlihatkan jiwa asli kita. Seperti anak-anak dalam taman hiburan, seperti keingintahuanku dalam pameran teknologi, seperti binar matanya dalam kebun teh dataran tinggi.  Kita tetap bersama, tanpa peduli perbedaan dan halangan, sampai sesuatu datang.

Café ini, malam ini di meja yang sama lima tahun setelahnya. Aku dan dia kembali duduk berdua, tapi ada yang berbeda. Aku memesan pina colada seperti biasa, tapi dia memesan margarita. Wah ! naik kasta, dari teh hangat menjadi rum dengan sari lemon pekat. Ada apa coba, sampai dia mengesampingkan minuman jiwanya. Kertas tebal disodorkan, ini jawabnya katanya. Kubuka perlahan dan kubaca tanpa suara. Pina colada ini tiba-tiba tanpa rasa. Ini kan undangan pernikahan, ada namamu tertulis di sini, dan bukan namaku pasanganmu.  Cuma satu kata yang kau bilang, kata maaf diikuti dengan serentetan air mata. Tanpa sempat menyentuh margarita, kau sudah beranjak pergi tiba-tiba, seolah menghindari pertanyaan kenapa.

Aku hanya terdiam, seperti ada kekosongan dan lubang yang dalam. 5 tahun hanya seperti ini ? kemarin kita berciuman dan sekarang kita bahkan tidak bisa saling memandang. Aku tak mengerti, kenapa kau yang menangis, kenapa bukan aku ?

Segera saja kupanggil pramusaji. Margarita itu masih utuh dan belum tersentuh, bolehkan aku menukarnya dengan vodka ? Pramusaji mengiyakan iba mungkin karena mataku sudah berkaca-kaca.

Dan  malam itu kuhabiskan dengan tenggelam dalam kekosongan jiwa.

Café ini, malam ini dan renungan kejadian yang terulang lagi. Dunia kita berbeda, dan entah kenapa aku masih jatuh cinta dengannya. Tepat Satu tahun setelah hari itu, belum juga kuputuskan untuk melangkah maju. Hati ini masih menunggu, tapi menunggu retaknya pernikahan seperti meminta Tuhan memisahkan apa yang sudah disatukan. Tidak pernah kusangka, pernikahan karena perjodohan paksa jaman Siti Nurbaya masih ada. Belum bisa kuterima peristiwa sakral itu, peristiwa yang tidak mampu kuhadiri tapi mampu mengubahku sampai saat ini. Bukan pina colada lagi di mejaku, tapi teh tarik hangat. Tidak bisa lagi kunikmati sedapnya aroma rum dalam jus nanas. Saat ini lidahku hanya ingin sisa kenangan lewat teh khas malaysia.  Teh yang disukainya saat mendung dan gerimis, menambah gairah katanya sambil tersenyum manis. Aku rindu senyuman itu. Puluhan wanita sudah kupaksakan menggantikannya, tapi tetap saja kurang serupa, kurang sempurna. Apa aku harus merindunya sampai mati, apa aku harus sendirian berjalan di akhirat nanti. Lamunanku tak terkendali.

Tergugah lamunanku pada aroma pesanan sebelah. Bersumber dari sebuah minuman hangat cangkir merah. Wanita itu, berkacamata, bibir tipis dan rambut panjang terbelah. Mengecap sedikit dengan memejamkan mata. Aku memandangnya lekat sampai akhirnya mata kita saling merapat. Senyum memecah kecanggungan sesaat. Entah kenapa langkahku terangkat mendekat, seperti dirayu maju aroma itu, aroma hangat lembut dan pekat, seperti pernah kenal, seperti pernah bertukar.

“Hai ! Minuman ini jasmine tea ?”

“Tahu dari aromanya ya ?”

“Iya. Maaf !! Aku Satria, Kamu ?”

“Jasmine”

Senyumku seperti terlepas dari kerangka, karena namanya, minuman itu dan lagu ini yang kebetulan mengudara.

 

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *