Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Cerita Biasa Saja

Budi, sebuah nama biasa yang diwariskan padaku. Sudah ada banyak budi tapi kenapa harus ditambah satu lagi ? Tidak bisa diolok diplesetkan menjadi lelucon manapun. Paling Cuma ejekan garing “Ini ibu budi”, “ini bapak budi” satu dua ceplosan kemudian senyap sepi. Nama yang biasa baik dari segi estetika dan diksi.

Aku tidak pintar sekaligus tidak bodoh, golongan tengah-tengah, golongan di bawah puncak dan di atas terendah. Tidak pernah ikut remidi, tidak pernah juga jadi tertinggi.  Tidak pernah bertanya, menyanggah, atau bahkan hanya sekedar tunjuk jari. Tidak seperti si nakal perokok dan petarung ulung, tidak juga seperti si pintar pendiam dengan otak setajam pedang. Tidak seperti si ganteng popular dan atletis, atau si pecundang pelampiasan ego preman picis. Aku seperti kata pengantar di dongeng SMA, tidak pernah ada dalam cerita, hanya sebagai syarat dan uneg-uneg Pencipta.

Kuliah di ekonomi akuntansi, fakultas biasa dengan mahasiswa terbanyak. Bukan juga aktivis, bukan juga perintis, hanya mahasiswa biasa datang duduk manis. Tidak seperti mahasiswa bermobil pribadi yang pasangannya gonta ganti, bukan juga mahasiswa cerdas muara semua tugas teman sekelas. Aku mahasiswa biasa, duduk di tengah, bukan tukang tidur di belakang atau cari muka di depan. Kadang perhatian, kadang materi hanya numpang bersarang.

Tidak begitu jauh juga saat bekerja, duduk depan komputer menangani laporan administrasi akutansi. Menghitung angka-angka yang bahkan tidak tau tujuannya apa atau lari kemana, yang penting debit sama dengan kredit, dengan begitu kerjaan dianggap legit. Korupsi supaya kaya, menjilat agar naik pangkat, atau menyelesaikan target tanpa mepet sama sekali tidak terbersit. Seperti kerja tanpa jiwa, bekerja tapi tidak pernah menikmatinya, hanya mengganti gelar pengangguran jadi pekerja. Tabungan ada tapi sekedarnya, tidak tahu nanti digunakan untuk apa, hanya sebagai wadah gaji sisa.

Bakat ? jangan tanyakan soal itu, aku tidak pernah sepakat. Aku tidak tahu apa talentaku, bahkan hobipun juga samar beku. Lantas harus kemana jiwa ini pergi, aku tidak tahu, jalan di depanku sama berkabutnya dengan malam tanpa bola lampu.

Masa lalu selalu menemaniku malam ini, malam ritual menikmati kebiasaan yang sudah terlalu terjadwal. Di kafe depan taman aku sendiri, di meja nomer 11, dengan pesanan tidak terganti, sebotol bir dingin dengan kentang goreng pedas. Datang setelah sore dan pulang sebelum malam, waktu yang nanggung sebelum DJ naik panggung. Selalu melihat pemandangan biasa yang sama, gadis biasa di balik meja kasir yang terlalu besar untuknya. Tidak sempurna tidak juga buruk rupa. Dengan kacamata membingkai matanya masih juga meninggalkan kesan biasa. Tidak ada yang aneh, kadang tersenyum pada pelanggan, kadang serius dan sibuk dengan laporan keuangan. Meski bir sudah habis sebotol, masih juga aku melihatnya biasa saja. Benar-benar gadis biasa dengan nama yang biasa pula, Leny, kapan hari aku lihat dari kartu nama tersemat di dadanya.

Aku sadar penjara biasa ini benar-benar menyiksa, sekali waktu ingin keluar menikmati kebisingan dan kerapuhan hidup. Selalu saja kusalahkan momen yang tak kunjung tiba. Hidup memang seperti berjudi, menang berarti pencapaian, dan kalah berarti tragedi, tapi dua-duanya melahirkan pengalaman. Aku bahkan tidak pernah bertaruh, tidak pernah membuka peluang menang atau kejatuhan rapuh. Standar, jalani saja tanpa tau jadi petaruh atau bandar, akibatnya juga standar, hidup biasa saja stagnan, monoton, dan membosankan. Seperti mempertaruhkan harta untuk usaha baru, atau mempertaruhkan waktu demi menunggu sesuatu, seperti kita juga harus jatuh untuk sekedar merasakan cinta. Aku tidak pernah sampai ke tahap itu. Aku belum jatuh, tapi ingin merasakan cinta. Mana bisa ?

Cinta dimulai dari kencan pertama, kencan pertama dimulai dari perkenalan perdana, aku harus memulainya, memulai dengan gadis kasir yang biasa saja. Apa susahnya sih menjulurkan tangan sambil bertanya “Hai aku Budi, kau siapa ? sering kita bertatap mata tapi tak tahu nama, ga enak juga kan”. Mudah! metode standar berkenalan tanpa takut salah tingkah.

Sudah jam sembilan kurang seperempat, waktunya untuk beranjak dari tempat. Uang kusiapkan lebih, supaya dapat kembalian dan kesempatan berkenalan.

“Sudah mbak ! Bir dingin dan kentang goreng pedas seperti biasa”

“25.000 Mas, seperti biasa juga”

Kusodorkan 50.000 sambil sesekali memandang mata dibalik bingkai kacanya. Mata yang sangat biasa, hitam bulat dengan alis tidak tebal juga tipis.

“Ini mas kembaliannya 25.000. Terima kasih”

Kuterima tanpa bertanya. Standar prosedur operasi otomatis kujalani, badan berbalik dan kaki melangkah pergi. Kemana menguapnya rencana tadi, sudah lebih 6 purnama terulang lagi. Kegagalan pemberontakan pada rezim biasa saja.

 Janji basi kuucapkan lagi, besok harus bisa, besok coba lagi.

  • Share on Tumblr

One Comment

  1. biasa saja

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *