Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Cerita Pendek yang Teramat Panjang

Hidupku bukanlah hidup yang aku pilih. Perkenalkan, namaku Anyelir. Nama yang sangat indah, bukan? Namun sayang, tak seindah hati orang yang memberiku nama. Ya…dia adalah kakekku, ayah dari ibuku. Aku tinggal bersama ibu, kakek dan suami ibuku. Ayah kandungku sudah meninggal 7 tahun yang lalu.

Hari ini aku akan menceritakan sebuah perjalananku bertemu denganNya. Sebuah kisah yang selalu kusebut dengan “sebuah cerita pendek yang teramat panjang”. Sebuah kisah pribadi yang mengubahkan seluruh dunia dan kehidupanku.

Kebanyakan orang mungkin akan merasa sangat bahagia mempunyai keluarga yang masih lengkap. Keluargaku juga masih lengkap, sekalipun ayahku adalah seorang ayah tiri. Ada ayah, ada ibu , bahkan ada kakek.

——————————– by arsarie

Cerita bermula ketika Kakek tidak setuju Ibu menikah dengan Ayah kandungku, Kakek adalah mantan tentara, dan Kakek ingin menantunya adalah tentara seperti dirinya. Tetapi cinta Ibu jatuh pada Ayah yang bekerja sebagai penjaga SMA. Jelas kakek tidak setuju, tetapi Ibu terus maju. Menikah tanpa restu dijalani Ibu karena keyakinannya akan cinta yang satu. Hanya saja Kakek harus ikut serta dalam rumah Ibu setelah itu, karena tidak ada lagi tempat dan panti jompo sangat dibenci Ibu.

Makan malam keluarga selalu dihabiskan dengan sindiran, kritikan sampai cercaan tajam pada Ayah. Ayah hanya bisa diam ketika rentetan hinaan menghujan di meja makan, dan Ibu tidak bisa apa-apa selain berdoa di kamar sendirian. Bahkan sampai kakek mengambil hak pemberian namaku dari orang tuaku. Kemudian saat Ayah meninggal karena sakit paru-paru, tidak ada haru di mata Kakek, tidak ada semangat baru dari Kakek untuk Ibu. Kakek hanya diam, sedang Ibu tersedu sedan.

Dua tahun kemudian, Ibu berhasil melangkah maju. Menemukan cinta baru pada seorang Laki-laki petualang yang lebih muda darinya. Terulang kembali, kakek tidak setuju. Lagi-lagi karena Ayah tiriku bukan tentara, dan lagi-lagi Ibu terus maju, menikah lagi tanpa restu. Perang di meja makan terulang lagi, hanya kali ini Ayah tidak diam. Ayah melawan, apalagi setelah tau namaku dari kakekku, bukan dari Ibu dan Ayahku yang dulu.

Pertengkaran  itu selalu membuatku ketakutan. Bahkan aku sampai takut jujur tentang badanku yang sudah tidak bekerja sesuai kemauan. Sudah sebulan ini di sekolah aku sering pingsan, diikuti hidung berdarah yang aku tahu itu gejala parah. Dan semuanya terbongkar, ketika aku pingsan di meja makan. Ibu membawaku ke dokter saat itu juga, didapati ada kanker stadium tinggi yang bahkan dokter sudah pesimis dengan pengobatan terapi.

Semuanya sudah berjuang, pengobatan alternatif sampai teknologi kini sudah dicoba dan akhirnya tetap saja aku masih terbaring di kamar manja, tidak berdaya. Sudah setahun mereka berusaha, aku tahu saatnya hampir tiba. Di kamar ini, kamar bernuansa orange dengan karpet hitam dan sprei merah marum aku terbaring. Rambutku yang sudah terkikis habis membuatku terlihat seperti bayi lagi. Sebuah akhir yang aku tahu akan kembali lagi ke awal.

Sesaat sebelum waktunya, aku meminta mereka 3 cerita, dan mereka setuju bersama.

Kakekku bercerita tentang kisah cinta bintang dan cacing tanah, sebuah kisah romantis tragis kesukaanku saat aku masih kecil manis. Cacing tanah tidak mungkin menjadi bintang, karena dia akan mati di luar sana dan bintang tidak mungkin menjadi cacing tanah karena sinarnya akan tertimbun sirna. Cinta mereka memang sebatas pada bertukar cerita dan jasa. Bintang selalu menerangi langkah cacing tanah, dan cacing tanah selalu menceritakan petualangannya kepada bintang. Karena mereka berbeda tetapi sama, sama-sama punya jiwa dan rasa. Cinta seperti itu sudah cukup membuat iri semesta.

Ayah menceritakan petualangannya di negeri tiga senja. Dimana senja berwarna biru, merah dan jingga, Dimana tiap senja ada tarian yang harus ditarikan dengan berpasangan. Kira-kira ada tiga puluh tiga pria dengan kemeja warna senja dan  tiga puluh tiga wanita dengan ikat rambut menyala bergandengan gembira. Kota yang hanya ada hanya jika impian kita menyala-nyala, sebuah kota tanpa batas asa. Tidak ada duka cita di sana, hanya suka ria dengan musik mengalun seirama. Ayah menyanyikan lagu senja itu disampingku, lagu senja yang terdengar seperti rajutan impian dalam berbagai rasa. Indah dan berkumandang berulang-ulang dalam jiwa, membuat ragaku menggeliat seirama, membuat impianku menari-nari berputar-putar dalam kepala. Rasanya seperti mabuk warna.

Ibu bercerita tentang seorang Mahadewi. Mahadewi yang rupawan sekaligus keibuan, memikat anggun bagai putri sekaligus rendah hati. Dimana ibu selalu berdoa padanya setiap hari tanpa henti. Percaya bahwa kasih sang Mahadewi akan memberikan kebaikan. Ibu sering berdoa untuk aku katanya, dan sekarang Ibu menunjukkan bagaimana cara berdoa itu. Tangan terkepal, mata terpejam dan kepala menunduk meringkuk. Dalam hening ibu bercakap pada sang Mahadewi. Saat Ibu berdoa, aku melihat sinar pada wajahnya. Sinar penuh kepasrahan dalam penyerahan hidupnya. Sebuah kepercayaan utuh tentang hidup yang akan selalu berjalan dalam kebaikan asal ada iman.

Dan ketika mereka selesai bercerita, mereka memandang tertegun satu sama lainnya, kemudian memandangku lalu berpelukan. Kakek di tengah sedang Ayah dan Ibu di kiri dan kanannya, dan mereka tertawa sampai terurai air mata. Sepertinya mereka menyadari sesuatu. Ketika impian bertemu iman, hanya cinta yang bisa menyatukan.

Cerita itu membuatku haru. Tidak ! Bukan ! Bukan cerita itu, tapi kakek, ayah dan ibuku yang membuatku haru. Canda tawa mereka yang selalu kudamba. Bahkan aku tidak pernah dengar ada suara tawa di rumah ini. Tapi sekarang tawa terasa seperti surga, seperti doa hanya saja dengan tambahan hahaha. Aku merasa tersapa olehNya, bertemu denganNya meski belum bertamu ke rumahNya. Aku bahagia dengan lahirnya sebuah keluarga lewat sebuah cerita.

Memang hidup ini bukanlah hidup yang aku pilih, hidup ini pilihanNya.

Aku tidak pernah memilih untuk hidup dengan keluarga ini, keluarga yang telat menyadari kebutuhan tawa dan cinta. Aku juga tidak pernah memilih untuk menjadi Anyelir, gadis lemah yang tidak pernah minta sakit parah. Tapi semua itu akan membawaku kepada sebuah cerita pendek, sebuah cerita pendek yang akan selalu kuingat sampai akhirnya aku dilayat, sebuah cerita pendek yang teramat panjang. Cerita yang akan selalu tentang cinta, impian dan iman.

Sekaranglah saatnya. Mataku semakin berat, tapi tidak dengan genggaman tangan mereka yang semakin erat. Ayahku menggenggam tangan kiriku, sedang kakekku tangan kananku, saat mataku terpejam erat aku merasa ibuku mencium keningku hangat. Gambaran mereka yang terakhir kuingat adalah tawa mereka, tawa sampai keluar air mata, tawa yang melahirkan keluarga. Senyum terakhir kuukir dan pendengaranku perlahan-lahan terarsir. Tawa mereka masih terdengar sayup sebelum akhirnya redup. Semua senyap sepi semua damai.

——————————– by oiasatria

Meski saudara kita memang berbeda, aku juga tahu kita tidak mungkin hidup selamanya
Seperti awal cerita ini yang kutemukan sepenggal dalam laptopmu kemarin senja,
Aku sudah menyelesaikannya, meski aku tahu belum tentu sesuai dengan naskah ceritamu
Tapi itulah saudara, menyelesaikan apa yang belum selesai dari saudara lainnya.
Tidak hanya cerita ini, tapi juga harapan lain yang sudah kautitipkan padaku.
Seperti kau pematik dan aku lilinnya, tugasmu menyalakanku sudah usai, dan giliranku menjaga sinarnya.
Agar kau tetap hidup, tidak pernah redup.
Agar kita punya sebuah cerita.
Sebuah cerita pendek yang teramat panjang.

RIP  – 291211
My sister Arsari
I’m just proud to be your brother

 We are

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *