Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Doa Bercerita

Hati-hati sayang, doamu bisa tercuri” pesan ibuku mengulang lagi.

Seketika itu kututup mataku erat-erat dengan kedua tangan saling mengepal. Aku takut doaku tercuri, bagaimana jika tidak sampai pada Hyang Widhi ? bukankah sia-sia saja?

Ibu bilang, “harta kita Cuma doa, jangan sampai hilang sirna.

Apa Kau tahu sayang, doamu bisa tercuri. Karena bentuk nyata doa seperti permata, kau bisa melihatnya dari mata. Karena mata cerminan asa, dan asa terbentuk dari doa.
Jika berdoa, bersembunyilah! supaya pencuri tidak menemukanmu. Tutuplah matamu karena mata adalah jendelanya. Pencuri bisa memasukinya jika terbuka, mencongkel dan mengambilnya paksa. Kau bisa buta sayang, kilau matamu sirna, dan doamu tak pernah sampai pada Sang Kala.

Jika berdoa, tenanglah! Supaya pencuri t tidak mendengarmu, mengendap dan mengintip matamu lewat mulutmu dan membuatmu tersedak sampai membuka matamu, mencurinya seketika tanpa ragu.

Ingat juga sayang, berdoa bukan meminta. Berdoa adalah kerinduan, kerinduan bertemu citra awal jiwa kita. Jangan meminta sayang, karena kita sudah diberi. Berikan yang terbaik untuk Sang Kala, karena kita bukan apa-apa”

Cerita doa itu selalu membekas. Sejak kecil aku sudah diceritakan hal ini, katanya sih turun-temurun keluarga. Tapi keluarga yang mana coba ? toh sejak lahir cuma Ibu orang tua dan temanku satu-satunya. Ah cukup !! sekarang aku harus fokus berdoa, bukan bernostalgia.

Tuhan, aku bahagia dan aku tidak meminta apa-apa. Tapi bolehkah aku bercerita Tuhan ?
Kau kenal Ibuku bukan ? Ibuku mungkin masuk neraka sekarang. Aku tahu dia sering berbohong, berkata baik saat terlihat bekas tamparan lelaki di pipinya. Berkata kenyang dan menyuruhku makan dari piringnya. Berkata sehat serta bekerja dengan pucat pasi dan keringat dingin di mukanya
Yah !! dia memang pembohong yang pandai Tuhan. Aku Cuma ingin mengenalkannya padaMu, dia sabar mendengar ketidak puasanku akan kerasnya siang dan dinginnya malam. Pijitan lembutnya menghantarkan tidurku. Masakannya sangat enak, digarami dengan asinnya air mata dan manisnya senyuman
Kalau saja di Surga Engkau butuh teman, tukang pijit atau koki, Ibuku jelas yang terbaik Tuhan, hidupku garansinya.

Terima kasih atas segala hidup dan harapan
Terima kasih atas segala jalan dan terang
Amin

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *