Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Kasih tak Sampai

Setiap malam penyesalan ini selalu sama. Andai waktu itu aku bisa menahan diriku. Andai waktu itu aku sudah bisa memberikan kemapanan pada Ibumu. Andai waktu itu aku dan Ibumu dapat berpikir lebih dewasa. Andai aku berani, berani menerimamu tanpa melihat masa depan Ibumu dan kamu. Semua andai yang kusesalkan membutuhkan putaran terbalik waktu, tapi aku tahu waktu berjalan maju.

Aku akan menceritakan kepadamu tentang diriku. Aku terlahir bungsu dari 2 bersaudara, beban terakhir dari keluarga kecil tapi bahagia. Kakakku sudah menikah dan tinggal di luar kota sekarang, sedang aku masih kuliah jurusan elektromekanika. Aku bertemu Ibumu pertama kali waktu itu saat hujan di hari Minggu. Dia berteduh di warung depan kampus dan duduk tepat disampingku. Ibumu terlihat sangat cantik dengan rambut separo basah karena hujan gerimis. Botol kecap menyatukan kita, ketika tanganku dan tangan Ibumu bersentuhan bersama saat mengambil botol itu. Kamipun tersenyum canggung, tapi tidak lama karena tanganku segera terulur untuk bertukar nama. Perkenalan dilanjutkan perbincangan, segala macam urusan dunia kami bicarakan. Ibumu adalah seorang wanita berwawasan luas, dan kuakui itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Pertemuan demi pertemuan kami lalui untuk membayar perpisahan di warung itu. Kami semakin rindu untuk sering bertemu, kami semakin tenggelam dalam cinta abu-abu, aku dan Ibumu dengan sebuah rasa satu.

Kamu ada bukan tanpa sengaja. Persetubuhan selalu sengaja, atas dasar cinta, aku dan Ibumu. Kita saling mencintai pada awalnya, berjanji sehidup semati seperti anak muda dalam serial televisi. Kemana-mana bersama, makan berdua, bahkan melangkah seirama.

Waktu itu saat hujan, Ibumu memutuskan menunda pulang dan berdiam di kamarku. Entah karena dingin hujan atau bisikan setan tiba-tiba kami sudah berpelukan, kemudian berciuman, lama sekali. Bibir saling mencibir,gigi saling menggerigi dan lidah saling meludah, nafas kami tersengal-sengal, nafas kami bertukar. Dunia hanya milik berdua, saling meraba tanpa busana. Berguling dan bergulung seperti puting beliung, keringat saling memadikan dan kata cinta diobral disela-sela hentakan badan. Rasanya seperti nirwana dalam dua raga menjadi satu jiwa.

Itulah awalnya, dan berulang terus semakin menggila.

Tiga hari sekali, atau sehari bertubi-tubi kita menikmati. Kita merasa inilah wujud nyata cinta, sebuah persatuan dua raga tanpa busana. Terlalu dini memang untuk sebuah kenikmatan setelah pernikahan. Tapi demi cinta kita rela buta.

Dua bulan setelahnya tiba-tiba Ibumu dengan mata berkaca-kaca berkata :

“Aku merasa ada kehidupan di sini” Sambil mengelus perutnya.

Ibumu bercerita bahwa siklus wanitanya tidak juga tiba. Kurasakan sesuatu dari tatapan Ibumu, Ibumu ketakutan. Aku menenangkan Ibumu, belum tentu itu kehidupan, bahkan mungkin hanya gurauan perut yang kelaparan. Kuputuskan untuk membawa Ibumu pada dokter kenalan. Belum juga satu jam diperiksa, dokter sudah menjabat tanganku dan Ibumu.

“Kabar gembira, memang ada kehidupan” katanya.

Malam itu kita berdua berdebat hebat. Melibatkan segala logika dan air mata, mencoba bermain dewa, memutuskan apakah kamu memang berhak ada atau tidak. Aku memaksa Ibumu melahirkanmu, tapi tidak dengan Ibumu. Ibumu tidak setuju, ketakutan akan aib keluarga dan masa depanmu jadi alasannya. Kita masih mahasiswa, bukan mahasiswa kaya, uang masih minta dan kelulusan juga masih lama. Ibumu takut kamu tidak seperti anak-anak lainnya, tidak mendapat tempat tinggal, makanan dan pendidikan. Tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua sungguhan. Dalam hati aku setuju dengan Ibumu, tapi aku tetap memaksa kamu harus ada. Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan kehidupan yang disia-siakan. AKu meminta 2 hari  untuk berpikir pada Ibumu.

Dua hari logikaku bergumul dengan segala skenario yang mungkin kita tempuh, tetapi pada akhirnya aku setuju dengan Ibumu. Maaf…

Kami membulatkan tekad, dan tidak berhenti saling meyakinkan bahwa ini semua baik untukmu. Teman-teman kepercayaan menyarankan seorang dokter di kota seberang. Karena kamu sudah terlalu kuat untuk bisa diluruhkan dengan obat, maka kami mencoba operasi. Biayanya cukup mahal, memaksa kami meminjam ke beberpa teman dengan berbohong tentang keperluan. Uang sudah didapat dan tanggal operasi sudah ditentukan.

Aku membawa Ibumu yang ketakutan ke tempat dokter kota seberang. Prosedur dengan sekali lagi dijelaskan dokter itu sekaligus menanyakan apakah kami yakin dengan keputusan ini. Dengan anggukan pelan kami menjawabnya, dan Ibumu segera dipersilahkan masuk ruang operasi. Di luar aku hanya bisa berdoa supaya Ibumu selamat melaluinya. Berdoa untuk satu nyawa dengan mengorbankan nyawa lainnya adalah doa terbodoh yang pernah kupinta.

Tiga jam operasi berlalu, dokter keluar dan mengangguk perlahan, operasi berjalan tanpa hambatan. Aku segera masuk ke kamar mendapati Ibumu terkulai lemas dan berbicara pelan. Di sudut ruangan aku melihat dokter itu sibuk membungkus toples berisi cairan gumpalan merah dengan linen. Setelah rapi terbungkus, dokter menyerahkan itu kepadaku sambil berbisik.

“Ini anakmu, aku yakin dia adalah perempuan”.

Aku menerimanya, membukanya dan menatapnya. Hati ini terasa teriris, sebuah kehidupan yang bahkan belum sempat ada sudah kurampas habis. Miris, aku menangis.

Sepulang operasi kami mampir di pemakanan, mengemis sepetak tanah kepada penjaga makam dengan uang sisa yang kami punya. Kami mendapatkannya, meski terpencil di pojokan pemakaman, kami menguburmu di sana. Tanpa peti mati bahkan batu nisan, hanya menggali dan membuat gundukan. Kami menandai makam kamu dengan bunga melati dan patok kayu. Upacara pemakaman sangatlah sederhana, setelah menguburmu aku dan Ibumu hanya bisa berdoa. Selama berdoa kami hanya menangis dan meminta pengampuan sang Kuasa, karena kita sudah merampas sesuatu yang berharga, merampas hidupmu.

Hubungan aku dan Ibumu tidak berlangsung membaik setelah kehilangan kamu. Kami terus menerus berdebat, bertengkar dan saling menyalahkan. Sepertinya kehilangan kamu, membuat kata damai menguap dari hubungan aku dan Ibumu. Sampai akhirnya Ibumu memutuskan untuk berpisah denganku, saat itu aku menyadari beban emosional Ibumu sudah sampai pada batasnya. Tetapi aku tetap berusaha bertahan dan meyakinkan bahwa masih ada masa depan.

Hubungan dalam keadaan tertekan karena kesalahan memang benar-benar menyakitkan, tidak ada lagi kata sayang, tidak ada lagi pertukaran ucapan selamat tidur malam, yang ada hanya diam meski kita berdua ada pada satu ruang. Sampai akhirnya aku dan Ibumu menyerah, dan kita berpisah.

Sudah sekian lama aku dan Ibumu tidak saling berbicara. Sekarang aku harus berkonsentrasi menyelesaikan kuliah dan mencuri waktu untuk bekerja membayar hutangku pada teman-temanku. Sudah terlalu lama perhatianku teralihkan, dan aku ingin melangkah ke depan karena kesalahan tidak bisa diperbaiki hanya dengan diam. Aku harus memperbaiki diriku supaya pantas menggenggam tanganmu kelak. Oh soal Ibumu, aku hanya tahu dari temanku kalau Ibumu sudah mendapatkan pendamping sekarang, lebih baik dan bisa membahagiakan Ibumu. Aku cukup senang, meski hati ini masih merindukan Ibumu. Tapi melihat diriku, Ibumu berhak mendapat seseorang yang lebih pantas.

Oh ya hari ini tepat setahun hari itu, hari kelahiran dan kematianmu. Aku di sini sekarang di kuburmu.

Memang aku belum pernah bertemu kamu, tapi aku merasa kamu adalah wanita paling ayu, hanya membayangkan parasmu membuat senyumku terlepas biru.

Memang aku belum mendengar suaramu, tapi aku merasa suaramu sangat merdu. Bahkan aku bisa merasakan apa yang teresap sebelum kamu mengucap.

Memang aku hanya tau namamu, tetapi entah kenapa cintaku padamu lebih besar daripada cintaku pada diriku.

Memang aku belum pernah memelukmu, tetapi aku yakin badanmu sangat lembut seperti embun dan wangi seperti bunga melati ranum.

Aku akan selalu mengingatmu, karena kamu adalah darahku, kamu adalah dagingku, dan kamu adalah anaku.

Aku sangat mengasihimu dan selalu berdoa untukmu, supaya kasih ini sampai padamu, supaya rindu ini selalu baru hanya padamu.

Hei Lihat ! Ini hadiahku untukmu sebuah nisan baru untuk menggantikan patok kayu dan melati yang sudah layu. Aku mendapatkannya setelah bekerja sambilan selama 3 bulan . Nisan ini dari batu dan aku sudah mengukir pesan untukmu sebelum namamu.

“Kasih itu Kamu”

Rahayu Adelia Luna.

  • Share on Tumblr

One Comment

  1. air mata berderai seiring hati yg tersentuh membaca cerita ini…
    hiks..hiks..
    yaaah,,Life must go on..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *