Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Nyai Dasimah

Aku ingat dia, orang gila yang sering kugoda waktu Sekolah Dasar dulu. Ternyata dia masih ada di tempat biasanya, di bawah pohon cemara, di dekat balai desa. Tidak banyak yang berubah pada dirinya, selain memutihnya rambut dan bertambahnya kerut. Masih tetap dengan cara yang sama, bersenandung dengan tatapan tanpa jiwa menatap arah Utara. Sebuah lagu yang asing mengalun dari mulutnya ditengah suasana bising.

Aku ingat dia, orang gila yang mengejarku dulu saat aku memberinya jawaban palsu. Dia aneh, tertawa tiba-tiba saat siang, dan menangis secepatnya setengah jam kemudian. Berteriak menanyakan pertanyaan yang sama kepada orang yang dijumpa.

“Kau sembunyikan dimana dia  ? pujangga pemilik jiwa ini”

Aku menjawabnya dengan asal, di bawah selokan dekat bangsal. Tanpa disangka logika, dia mencarinya dengan tergesa-gesa ke sana. Masuk merangkak ke dalam selokan cekak meski selokan itu bau berak. Aku ingat wajahnya ketika keluar tanpa apa-apa, merah marah dan mengejarku dengan sumpah serapah. Aku lari tunggang langgang dengan kencang, mungkin karena umur membedakan, aku lolos dari dekapan menyeramkan.

Legendanya baru kuketahui setelah aku beranjak dewasa dari para penatua. Mereka bertutur kata tentang dua buah keluarga yang berkuasa. Keluarga Candrakirana dan Waskita.

Dasimah Candrakirana nama lengkapnya. Pewaris darah Candrakirana Berasal dari keluarga terpandang desa sebelah. Darah candrakirana adalah darah keluarga besar istimewa. Pemilik sawah terluas di desa. Dulunya mereka pejuang,  karena kemenangan, mereka dihadiahi tanah sangat lapang. Karena kepintaran juga, kakek buyut mereka tidak hanya menjual beras dari sawahnya, tetapi menimbun supaya harga melambung dan mengolahnya menjadi berbagai panganan dan jajan. Mulai toko kelontong sampai tengkulak bergantung pada gudang beras Candrakirana, Petani dengan sawah sendiri pun hanya bias menjual berasnya kepada mereka. Kadang harga beras desa sesuai dengan suasana jiwa candrakirana, jika gembira maka murahlah harganya. Keuntungannya bahkan cukup untuk membiayai hidup mereka 7 turunan.  Pengaruh mereka lambat laun jadi besar disana, kesejahteraan yang paling utama. Candrakirana mempekerjakan banyak tenaga kerja lokal, otomatis membuat warga loyal. Meski kepala Desa bukanlah seorang Candrakirana, tapi pemilihan kepala desa juga tidak lepas dari peran mereka, kepala desa hanya boneka.

Waskita berarti waspada, karena waspada itu juga keluarga mereka jadi penguasa desa tetangga.  Mereka adalah keluarga ulet dalam berdagang, tekun dalam menabung, dan yang paling penting adalah waspada terhadap sekitar. Karena dengan waspada, harta mereka tidak ada yang terbuang sia-sia. Waskita mempunya pabrik roti terbesar di desa tetangga, rotinya manis dan laris. Lahan gandum juga mereka ada, cukup luas dan terlihat menguningkan desa. Mereka sangat pintar memutar uang dengan cara jasa peminjaman dengan bunga sedang atau investasi dalam barang jangka panjang, tidak heran mereka memiliki banyak gudang. Gudang-gudang  untuk menampung bahan baku mereka, gandum dan tepung. Juga untuk penyimpanan roti-roti sementara sebelum dipasarkan.

Candrakirana dan Waskita sudah bersaing sejak lama. Karena mereka saling mempengaruhi, maka dari itu mereka saingan abadi. Nasi bisa digantikan roti, dan roti bisa juga digantikan nasi. Saling mengisi sekaligus saling menghabisi.

Persaingan bisa berlangsung dengan segala cara, sehat maupun laknat. Bermula dari suatu peristiwa tanpa fakta. Entah siapa dulu yang menghembuskan isu gudang beras Candrakirana terbakar adalah ulah Waskita. Kontan Candrakirana berang, gudang dibalas gudang, malam itu juga gudang gandum Waskita habis dilahap api  dalam sepi. Sejak saat itu, peperangan dua keluarga itu seolah jadi tradisi.

Sampai satu hari saat hari raya panen di desa Candrakirana. Anom Waskita putra bungsu Waskita menyamar dan mengikuti pesta.  Misi mencari kelemahan dan perkembangan strategi terkini Candrakirana diemban Anom. Informasi belum sempat digali, Anom tak sengaja melihat wanita yang begitu mempesona, Dasimah Candrakirana, putri bungsu Candrakirana. Anom jatuh cinta dengan kecepatan cahaya, cinta pada pandangan pertama.

Satu kesempatan berhasil didapat Anom untuk mendekati Dasimah. Mereka berdua saling tatap, kemudian saling jabat. Tatapapan itu membawa mereka ke dunia yang berbeda, dunia yang hanya terdiri mereka berdua. Pipi semu merona terlihat pada Dasimah dipicu senyuman sederhana Anom. Mereka saling bercerita, bercengkrama hingga pesta usai senja.  Bahkan ketika kebenaranan diberitahukan, ketika Dasimah tahu Anom berdarah Waskita, setitik kecewa tidak mampu merusak cinta mereka yang sudah sebelangga. Masa depan seperti sirna dari pikiran, yang mereka pikirkan hanyalah sekarang, yang mereka nikmati hanya kemesraan.

Pertemuan-pertemuan rahasia selalu mereka lakukan. Lewat kurir-kurir terpercaya mereka bertukar pesan, dan rayuan. Setiap siang sehabis Anom mengurus gudang, selepas Dasimah mengolah gabah, mereka berjumpa. Bertukar cerita dan mimpi hidup bersama, berjanji jatuh cinta setiap hari, berdendang bersama lagu yang menyatukan hati. Seperti cinta yang sempurna dalam sangkar yang berbeda. Pohon Cemara  dekat balai desa adalah tempat favorit mereka, bukan karena dekat, tapi karena jauh dari rumah utama dua keluarga. Pohon itu juga pohon paling rindang di desa seberang, dan merupakan bukit paling menjulang. Dari situ dapat terlihat dua desa tempat dua keluarga berkuasa, satunya hijau karena padi dan satunya kuning karena gandum.

Sampai suatu hari kebersamaan mereka terungkap. Kabar menyebar seperti api membakar, bersumber dari  satu mata keluar lewat mulut dan bermuara pada puluhan telinga. Kisah cinta itu aib dua keluarga, kisah cinta itu kegagalan didikan orang tua, kisah cinta itu haram adanya. Situasi menjadi sulit, Dasimah dipingit dan pekerjaan Anom semakin berbelit. Semua itu dilakukan dua keluarga agar mereka tidak saling berjumpa, tidak menambah dalam cinta. Anom dan Dasimah semakin tersayat, ketika rindu sudah ikut campur dalam hasrat. Keinginan untuk bertemu sudah begitu berat, apapun dilakukan dengan nekat.

Keadaan menjadi tidak memungkinkan ketika Candrakirana memaksakan Dasimah sebuah perkawinan.  Dengan calon dari keluarga terpandang penguasa negeri seberang Dasimah akan dinikahkan. Semua hanya demi sebuah darah murni, darah Candrakirana tidak boleh bercampur dengan Waskita, Dasimah dan Anom tidak boleh bersama. Dasimah jelas kecewa, tidak disangka kebebasan memilihnya sudah dirampas.

Dalam kecewa dan murka, Dasimah punya sebuah rencana. Namanya rencana pura-pura, mulai dari pura-pura melepaskan jiwa, sampai pura-pura pemakaman raga. Ada sebuah ramuan dari sahabat terpercaya, ramuan mati suri selama 3 hari. Dasimah mengambil cara itu, sebuah kematian yang dipalsukan untuk bisa ditukar kebebasan.

Hari perkawinan tiba, rencana sudah disiapkan matang dan tertata. Dasimah meneguk ramuan itu, seketika jantungnya pelan berdegup, matanya meredup, Dasimah dalam keadaan setengah hidup.  Candrakirana panik, upacara pernikahan berubah menjadi konflik pelik. Dokter keluarga ditugaskan memeriksa Dasimah, dokter yang sudah diupah Dasimah itu hanya menggeleng lemah, pertanda Dasimah hanya tinggal remah. Kematian buatan Dasimah sukses membuat pernikahan menjadi tangisan. Seluruh Candrakirana dibuat bingung berkabung, janur kuning diturunkan dan bendera hitam melambung.

Kabar kematian Dasimah terdengar Anom secara samar-samar. Tidak percaya dengan telinganya, Anom harus memastikannya dengan mata.  Dengan bantuan penyamaran, rambut dan kumis buatan, Anom menyusup ke dalam pemakaman itu. Candrakirana terlalu sendu untuk menyadari kehadiran Anom. Sosok  Dasimah tergeletak dalam kotak kayu, terbujur kaku dan biru. Separuh jiwa Anom seperti menguap, menyisakan separo jiwa lagi yang hanya bisa meratap. Anom mendengar cerita dari sekitar, Dasimah meminum racun karena tidak setuju perkawinan paksaan.  Anom merasa lemah dan tak berharga, menyelamatkan jiwa cintanya saja tidak mampu, apalagi dirinya. Tidak tahan akan kekosongan jiwanya Anom meninggalkan acara tergesa, dalam gerimis Anom menangis. Dokter upahan Dasimah yang telat menyadari kehadiran Anom segera mencarinya, Anom terlalu kencang, dan gerimis menutup pandangan, sementara rencana Dasimah belum tersampaikan.

Anom tak pernah pulang sejak gerimis menelannya magis. Keluarga Waskita kelabakan, pencarian besar-besaran dilakukan. Semua mata dan telinga dikerahkan, imbalan bagi yang menemukan dikeluarkan. Namun tetap tak ada hasil. Waskita curiga Candrakirana pelakunya, tapi  mata-mata terpercaya Waskita berkata sebaliknya, tidak ada bukti Anom di Candrakirana. Semakin lama kehilangan Anom menjadi praduga. Ada yang menduga Anom lari ke luar kota, ada yang menduga Anom tersesat di hutan dan dimakan srigala, ada yang menduga Anom mati dan membusuk sampai tak dikenali. Semua praduga berujung pada alasan yang sama, kematian Dasimah yang mengosongkan jiwa. Semakin lama, Anom semakin dilupakan Waskita. Semakin lama, Anom sudah dianggap tiada.

Dasimah terbangun dari kematian palsu di salah satu orang terpercaya, di desa ini, desaku. Sesuai rencana, kini Dasimah mendekap kebebasan yang sudah dijanjikan. Kebebasan dari Candrakirana, karena Dasimah sudah dianggap meninggal dunia. Sekarang hanya ada dirinya, Anom dan cinta bersama.

Kabar hilangnya Anom akhirnya sampai ke telinga Dasimah, berbagai praduga juga didengar oleh Dasimah. Sayang hati Dasimah butuh lebih dari praduga, dia tidak percaya itu semua. Anom pasti kembali, hal itu diteriakkan berulang-ulang oleh hati. Karenanya Dasimah memutuskan untuk menanti, di tempat biasanya mereka mengikat janji, di bawah pohon cemara dekat balai desa.

Ketika penatua itu selesai bercerita, aku melihat ke arah cemara. Dasimah masih disana, duduk tersimpuh di bawah cemara dengan tatapan keruh. Aku menghampirinya dan berkata

“Kau masih ingat aku ?”

Pertanyaan itu dijawab pertanyaan yang tak asing di telingaku

“Kau sembunyikan dimana dia  ? pujangga pemilik jiwa ini”

“Aku tidak tahu, tapi aku akan menemanimu menunggu”

Siang sampai senja itu kuhabiskan duduk di sampingnya. Tanpa obrolan, tanpa kata-kata, hanya duduk diam menerawang mendengarkan.  Terkadang aku mendengar Dasimah tertawa lapang, terkadang tersedu sedan. Terkadang juga aku mendengar Dasimah bersenandung pelan, tentang lagu yang sering mereka dendangkan saat siang. Hanya kenangan teman sejatinya saat penantian.

Dasimah tidak seseram yang kubayangkan dulu, dia seperti terpaku pada 20 tahun lalu, hanya kepastian yang bisa membuatnya berlalu. Tapi kepastian seperti hilang, seperti sirna tanpa memberi Dasimah sedikit ruang.

Senja mulai hilang, aku mulai beranjak sementara Dasimah masih tetap diam. Waktu memang berjalan, tapi kadang penantian bisa menghentikan.

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *