Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Para Pencari

Selamat pagi. Salam itu kini kuucapkan pada diriku sendiri. Hari ini aku ada janji, harus segera ke kantor desa untuk mengurus identitas diri. Kegiatan rutin sebelum mandi, aku menyalakan TV. Seperti sebelumnya, masih hangat saja berita pencemaran ini. Diberitakan sebuah perusahaan tambang kelas dunia membuang limbahnya ke sungai hutan hujan. Tidak ada pengolahan yang signifikan, limbah dialirkan begitu saja dengan pipa yang disamarkan.

Curiga atas kematian ikan-ikan di keramba, seorang penduduk menyelidiki apa penyebabnya. Pipa tersamar ditemukan di semak belukar, setelah ditelusuri pipa tersebut berasal dari pertambangan di gunung depan mata. Kampung dengan komiditi utama ikan sungai kini telah mati, ratusan keramba penduduk tak berfungsi, kualitas air sungai terlalu buruk bahkan untuk ikan hidup. Pencemaran yang memuakkan, mungkin benar kiamat sudah kelihatan di depan. Tuhan memang punya kuasa menciptakan kiamat, tapi sekarang kuasa itu nampaknya salah alamat, manusia juga bisa. Ketimbang berpikir logis dan rasional, manusia malah meciptakan perang dan polusi skala global.

Belum lagi berita tentang pembakaran kitab suci di salah satu negara, jika tidak setuju isi kitab itu ya jangan dibaca, kenapa harus dibakar segala ? Lebih parah lagi di negara sendiri, kekerasan atas nama agama seringkali terjadi, memberantas maksiat jadi alibi. Manusia beragama lebih memilih  mencari pembenaran dengan meluruskan kesalahan melalui kekerasan. Perbedaan selalu dikesampingkan, mungkin mereka menganggap Tuhan itu pabrikan, produk yang dihasilkan mesti sama semua, berbeda adalah cacat yang tidak boleh ada. Harus dikembalikan ke pabriknya atau didempul dengan keras agar bentuknya sama.

Berita pencemaran sebelum mandi agaknya membuat aku sedikit takut akan air ini, jangan-jangan air ini juga korban polusi. Merenung lama di kamar mandi tidak bisa membuat badan otomatis bersih sendiri, mau tidak mau air ini harus mengguyur diri.

Seperti kemarin, hari ini aku masih melakukan pencarian disamping kegiatan rutin. Entah apa yang aku cari, rasa percaya dari sebuah eksistensi atau hanya kegelisahan hati ? Semoga apa yang kucari dapat kutemui dalam perjalanan ke kantor desa nanti, repot rasanya harus menyelami birokrasi sambil berpikir sesuatu yang masih susah dimengerti.

Sedikit cerita, kakekku dulu tidak beragama, apa yang jadi agamanya hanya tradisi yang diturunkan leluhurnya. Tuhan itu seperti Roma, banyak jalan menuju kesana, agama itu jalannya, tidak beragama juga jalannya. Kakekku orang yang baik, tidak pernah beribadah, tapi segala isi alam semesta disembah. Katanya Tuhan tidak cuma di tempat ibadah, Tuhan ada di sebutir pasir sampai dedaunan basah. Dia menyembah tapi tidak dengan beribadah, sembahnya lewat kerjanya. Lahan basah diolah menjadi sawah, seorang pekerja keras yang tidak pernah berkeluh kesah. Pacengklik masih bisa bersyukur, panen raya juga tidak takabur.

Tiap aku berkunjung ke rumah kakekku, aku selalu diberi petuah sampai telinga ini kaku. Keprihatinan utamanya adalah tentang orang-orang beragama yang justru jadi pelupa, pelupa kemana mereka mengarahkan kapal hidupnya, pelupa bahwa hidup tidak akan menghasilkan hanya dengan berdoa, tapi juga harus bekerja, harus juga berbagi pada sesama. Pelupa karena sesama yang berbeda dianggap wabah penyakit yang berbahaya, harus dimusnahkan atau harus disembuhkan dengan obat yang namanya agama. Tapi sayang kakekku kini sudah meninggal, bahkan sampai liang kubur pun keyakinan kakek tetap subur. Seolah tahu kapan dirinya meninggal, kakek berpesan pada keluarga terdekat untuk tidak memakamkannya dengan upacara agama apapun, kakek hanya ingin bersemayam secara sederhana dengan tradisi yang sudah ada. Seperti tidak ada kekhawatiran kemana jiwa selanjutnya, baginya surga sudah dirasa saat dia bernyawa, saat peluh meluncur dari kening ke pinggang, saat tawa nenek menyambut setelah pulang dari ladang.

Sejak aku menulis pencarianku dalam social media, banyak teman-temanku ikut berbela sungkawa, dipikir aku sudah mati apa ? Banyak yang menasihati bahkan tidak sedikit yang ikut berkhotbah supaya aku kembali ke jalanNya. jalanNya itu jalan siapa ? jalanmu atau memang jalanNya? Bahkan tidak sedikit yang menjual surga lewat agama. Pacarku sendiri sudah memutuskan berpisah, karena imanku sudah goyah, ada-ada saja. Sudah 1 bulan aku berpisah dengannya, sejak aku mengungkapkan pikiranku yang terpendam 1 tahun lamanya. Sekarang aku sendiri lagi, seperti semula lagi. Aku memberitahunya kalau ingin jadi tidak beragama sementara, dia marah, dan itu alasan utama kami berpisah. Wajar lah, setiap perempuan pasti ingin pacarnya beriman dan rajin berdoa. Aku berdoa, hanya tidak lewat agama, masih juga dia tidak terima.

Orang beragama sekarang juga berlagak seperti pengacara. Kitab mereka baca sebagai undang-undang yang saling mengekang. Mencari celah di sana-sini hanya untuk lolos dari jeratan larangan atau bahkan pembenaran dari tindakan menyimpang. Ayat-ayat dianggap saling mengunci, sehingga kebebasan penafsiran diperlukan untuk membelokkan makna terdalam. Kitab berisi tentang sebuah sikap, sebuah kisah dan ajaran temurun yang tidak dipahami sebagai aturan kaku. Aku jadi teringat sebuah ayat suatu kitab yang pernah kubaca sekali waktu itu. “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”.  Sebuah bentuk ajaran yang harusnya diterapkan setiap orang, sebuah ajaran tentang pengendalian diri. Andai semua mengerti, bumi ini akan lebih lembut lagi.

Sering aku berpikir apa yang membuatku jadi begini, mungkin merupakan akumulasi dari berbagai informasi. Informasi tentang banyaknya tingkah laku orang yang sembarangan ketika mabuk agama. Bukan orang tua, orang tuaku taat beragama dan rajin sembahyang, hanya diri ini yang kadang bimbang. Entahlah, aku sendiri atau setiap orang akan sampai pada tahap ini ? tahap ketika iman tidak cukup untuk menjawab pertanyaan, tahap pengetahuan asal muasal dan kehidupan kekal selalu terlihat gombal.

Sebuah cerita menarik pernah juga aku baca, cerita tentang agama dan jari.

“Kepercayaan agama,” kata Sang Guru, “bukanlah pernyataan akan Realitas, tetapi sebuah petunjuk, yang mengarahkan pada sesuatu yang tetap merupakan suatu misteri. Misteri itu melampaui pemahaman akal budi manusia. Pendeknya, kepercayaan agama hanyalah sebuah jari yang menunjuk pada bulan.

Beberapa orang beragama tidak pernah beranjak lebih jauh dari mengamati jari belaka. Yang lain malah asyik mengisapnya. Yang lain lagi menggunakan jari untuk mengucek mata. Inilah orang-orang fanatik yang telah dibutakan oleh agama. Sangat jarang penganut agama yang cukup mengambil jarak dari jari mereka untuk dapat melihat apa yang ditunjuk. Mereka inilah yang, karena melampaui kepercayaan mereka, justru dianggap sebagai penghujat.”

Memang aku tidak ingin jadi orang bodoh yang cuma melihat telunjuk. Tapi mungkin sekarang bulan tidak kelihatan, sepertinya aku harus lebih sabar mencari bulan di antara awan.

Tidak kusangka sepanjang itu aku harus berpikir sebelum mengisi formulir ini. Aku bisa dengan mantab menulis namaku, Ajisaka Aditya. Tapi ketika sampai kolom agama, aku bingung harus berpura-pura jadi agama apa ? Sudah keempat kalinya aku tidak bisa mengisi kolom ini, dibiarkan kosong juga tidak akan bisa menembus birokrasi. Mending pulang saja aku, mungkin KTP ini tidak perlu diperpanjang lagi sebelum hati ini menemukan yang aku cari. Identitas yang tidak sesuai dengan jati diri mana punya arti ?

Semoga dunia ini damai selalu dalam setiap perbedaannya, seperti akhir doa yang biasa aku dengar

Damai di hati, damai di bumi, damai selama-lamanya …

Inspired by Religulous Movie

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *