Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Perjalanan Perkenalan

Perkenalan. Namaku Surya. Surya berarti Matahari, tapi bukan berarti aku hanya keluar siang hari. Bulan ini Agustus, cuaca panas dengan angin sedang, bulan yang cocok untuk sebuah perjalanan panjang.

Persiapan. Logistik, dan obat-obatan. Sepatu dengan sol sekeras karang, supaya pijakan menjadi cengkeraman. Baju hangat dan biscuit coklat, kombinasi hebat di saat dingin menyengat. Semua masuk dalam tas panjang besar bulat, 15 kilogram cuma seper delapan berat badan. Ringan dan menantang.

Perjalanan. 3 jam sebelum pintu gerbang, bercanda dan tertawa bersama teman seperjalanan. Sebagian terpejam menghemat semangat. Jangan habis-habiskan semangat di sini ! itu bahan bakar utama selain sarapan, nanti pasti saya butuhkan.

Megah dan Menakjubkan. Pintu gerbangmu dengan jalan tanpa kelokan di belakang. Huh ! dasar gunung sialan, enak saja kau yang gagah sendirian. Sedikit bumbu arogan mematik semangat untuk mulai jalan.

Pendakian. Langkah mengayun mencengkeram. Pohon mulai menghilang, apa ini ? padang rumput tandus panas tanpa bayang-bayang ? Keringat terperas gelas demi gelas. Panas terus memelas, air teman seperjalanan ikut menjadi pemuas. Betapa serakah dan rakusnya dahaga ini, persetan!! yang penting mulut tidak kering kerontang.

Tanjakan. Berbukit dan bergelombang, Tidak ada tangga di sini, Cuma jalinan akar pohon tua tahunan sebagai pijakan. Kaki mulai memberontak. Ingin duduk dan terbaring manja, Tidak kataku !! meski harus kuseret pilu, aku harus maju. . Susah juga membedakan paksaan dan semangat sekarang. 10 langkah melangkah kemudian jengah, nafas terengah-engah, lutut mulai pongah, bedebah !! Beban ringan berbanding lurus dengan jarak perjalanan, semakin kedepan semakin menekuk pinggang. Sungguh pelan, seperti siput yang berjalan mundur, pelan tersungkur !

Malam menjelang, akhirnya aku mendapatkan kesunyianku sendiri. Hanya saja beda kali ini, ditemani teman seperjalanan dengan panggung langit hitam bersih dan titik-titik bintang. Bintang perlambang kesedihan masa silam, sudah tiada tapi sinarnya masih menerangi, sudah berlalu tapi terasa pilu. Terlalu sibuk aku menghitung bintang, lupa pada rembulan. Kenapa juga mengingatkan lagi pada kebaikan yang kusia-siakan karena sibuk pada hal remeh palsu berkilauan.

Makan malam Mie instan masakan teman seperjalanan, tidak sehat memang tapi kenapa terasa sedap sejagad ? Mungkin bumbunya kebersamaan dan senyuman. Aku ketagihan. Kantuk serasa mengutuk, dan kutukan itu menang. Terlelap senyap di tenda parasit sempit tapi hangat meringkuk dalam kantong tidur, Nikmat.

Jam dua dini hari, seorang kawan membangunkan lengkap dengan kopi hangat dan senyuman. Sudah saatnya, perjalanan ke pucuk mengejar matahari baru. Mata setengah terpejam dengan senter berpendar, melangkah gontai pelan enggan tapi tetap dipaksa berjalan. Mengoleskan madu di mulut menjelang pecah hanya untuk membuat terjaga. Sudahkah 3000 meter ketinggianku ? aku bertanya-tanya dengan gemeretak gigi dihunus angin gunung minus celcius.

Kenapa ini ? aku berhenti, sendiku tak berfungsi. Duduk terhenyak dan memijat seadanya sendiri. Ayo berdiri kaki !! puncak tinggal sedikit lagi. Kaki tak mendengar, seperti marah pada tuannya yang lupa menggajinya. Protes dengan gemeletak tak bergerak, aksi diam yang menyebalkan.

Sudah ?! Sampai sini saja. Ya cukup sampai sini. Memicing mataku melihat tanjakan terakhir, batu pasir miring jaminan tergelincir. Kucoba kutimbang seimbang dengan kekuatan kakiku, apa sepadan ? Tidak. Resiko dan ketakutan menang.

Akhirnya aku turun, gravitasi membantuku tegak berdiri. Berjalan sendiri, berlawanan dengan kawan yang berjuang menuju awan. Ada yang mengganjal di sisi perut sebelah kiri, di hati. Dalam tiap langkah ada penyesalan. Aku sendirian sekarang, ditemani kesepian aku merefleksikan perjalanan.

Aku mendakimu berharap menemukan diriku

Dalam Bekas seretan kaki lesu di punggungmu kutemukan semangat tergores membekas

Dalam Senyum sapa sesama kutemukan kebersamaan

Dalam dahagaku tersembunyi Egoku, meranggas air teman dengan buas.

Dalam Kesederhanaan aku menemukan Kenikmatan.

Dalam kegagalan aku menemukan diriku.

Karena dalam kegelapan aku menemukan arah titik cahaya terang

Karena dalam keheningan aku mendengar desahan kehidupan.

Karena saat tergeletak, aku menyadari kasih Sang Kehendak.

Satu-satunya yang akan menuntunku kelak…

Aku teringat kutipan film perang silam

“Never run when you can walk, never walk when you can stand, never stand when you can sit, never sit when you can lay down, never lay down when you can sleep”

Dan dalam perjalanan hidup ini, lakukan sebaliknya.

Perjalanan Perkenalan

*Aku akan kembali lagi nanti

Seperti ada wajah di balik topeng ini tetapi bukan wajahku

Siapa lagi yang mengenalkanku pada diriku selain kamu ?

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *