Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Sang Pembelajar

Sampai juga aku ke sini, sekolah ini, pintu kelas ini. Senyum kupasang, saatnya melangkah masuk panggung pendidikan.

“Selamat pagi kawan”

“Selamat pagi Pak Guru” Jawab muridku serentak.

Guru kata kalian ? Aku bukan gurumu, tapi kalianlah guruku. Karena hidup adalah pembelajaran tanpa henti, maka aku belajar sampai mati.  Aku hanya berbagi ilmu, tapi kalian memberiku banyak pelajaran. Pelajaran Iman, kesederhanaan, kekuatan dan visi.

Pelajaran Iman kudapat dari Christian. Bukan karena dia religius, tapi karena dia berbeda arus. Dia tidak pernah malu, tidak pernah ragu menunjukkan agamanya dalam tindakannya. Tidak dengan berdoa, tapi dengan tenggang rasa. Bahkan sampai ikut menahan dahaga di saat bulan puasa. Diam dan sabar di dalam kelas saat pelajaran agama yang berbeda dengan jiwanya. Sindiran dan hujatan kasar secara langsung terus diterimanya dengan lapang dada, meskipun katanya itu cuma bercanda, tapi menurutku sudah sampai menghunus jiwa. Sempat aku berusaha membelanya, tapi Christian dengan santai berkata “Membela Yang Maha Besar hanya akan mengecilkanNya, Tuhan terlalu besar untuk dibela mahkluk kecil seperti saya, Dia tidak butuh pembelaan, Dia hanya butuh saya berkarya dalam namaNya”.

Pelajaran kesederhanaan kudapat dari Nadia si kaya. Bagaimana tidak, punya bapak mantan direktur dan ibu disainer arsitektur. Kebutuhannya tidak pernah kurang, selalu tercukupi senang. Tapi perjuangannya untuk diterima sebaya benar-benar luar biasa. Pindahan sekolah maju kota besar, berbeda dengan sekarang, sekolah proletar. Dulu mudah mendapat teman karena satu lapisan, tetapi sekarang merangkul teman seperti harus melompati jurang. Beda kebiasaan, kebudayaan dan bahasa.  Bahasa nasional tidak berlaku sebagai bahasa pergaulan, bahasa daerahlah yang berkiprah. Tidak pernah tertawa bersama ketika bercanda hanya karena tidak mengerti lelucon lain bahasa. Orang yang pasti dipilih pertama dalam kelompok kerja, karena selalu kebagian peran penyandang dana, meski sebenarnya Nadia ingin peran sebagai pelaksana. Berangkat sekolah diantar supir, tapi malah turun 100 meter dari gerbang sekolah dan berjalan dari pinggir. Seperti merpati yang terpaksa berjalan di antara ayam-ayam meskipun bisa terbang, hanya supaya berkawan, hanya supaya ada obrolan perjalanan. Tidak ada teman yang benar-benar bisa memahaminya, memahami kalau orang kaya juga manusia, butuh teman dan canda tawa. Nadia adalah pertanda, pertanda bahwa sangat penting untuk menjadi seirama dengan sesama.

Pelajaran kekuatan kudapat dari Tari. Ini rahasia, dia sedang hamil. Sudah 2 purnama umur kandungannya. Lelakinya pergi berkelana setelah tau Tari berbadan dua, merantau mencari nafkah untuk anaknya nanti katanya. Naluri Tari berkata kalau itu hanya alasan penghiburan untuk menutupi tanggung jawab hampa tanpa harapan. Aku menjadi dekat dengan Tari saat itu, saat dia bertanya kenapa siklus wanitanya tidak kunjung tiba. Aku tahu ke arah mana pertanyaan itu bermuara, kudampingi dia ke dokter kandungan terdekat di kota untuk mendapat pemeriksaan. Hasilnya tentu saja, Tari menangis berjam-jam di pundakku dalam bis kota saat perjalanan pulang. Kuberi ijin spesial untuk tidak masuk sekolah selama 1 minggu menenangkan hatinya yang sendu. Hanya 2 hari berlalu, Tari sudah kembali masuk kelas dengan semangat baru. Memang matanya masih terlihat sembab, tetapi ada tekad kuat dari tatapannya. Tidak ada tekad yang lebih besar daripada menyelesaikan sekolahnya sebelum perutnya kelihatan membesar juga katanya. Aku juga tidak tahu apa untungnya ijasah SMA untuk seorang ibu muda. Tapi semangat belajarnya semakin buas, sepertinya Tari tidak hanya ingin menghadiahkan nilai terbaik untuk buah hatinya, tetapi juga perjuangannya kelak. Melihat tekadnya, melihat dikalahkannya penyesalan kesalahan terburuknya, aku jadi merasa harus ada disampingnya. Menutup-nutupi kejadian yang dibilang hina dari ciuman para penggosok berita bukan hal yang sederhana. Berulang kali aku harus berbohong atau mengalihkan arah pembicaraan kosong sampai ijazah SMA turun tahta. Tari adalah sebuah bukti, bukti nyata kekuatan hati.

Pelajaran Visi Kudapat dari Jenius yang tidak bisa diprediksi, Baskoro Sastroutomo. Selalu tidur saat pelajaran inti, tapi menjawab dengan pasti jika ditanya tiba-tiba. Memang garis hitam dibawah matanya pertanda tidak pernah terbaring saat malam tiba. Dengan kemampuan analisa semistis itu, Baskoro tetap saja tidak pernah ujian dengan nilai tertinggi. Satu hal yang membedakan Baskoro dengan remaja cerdas lainnya adalah empati. Baskoro terlalu senang berbagi,  apapun dibagi, mulai dari jawaban soal ujian, pengertian akan pelajaran, uang saku makan siang, informasi berita terkini, sampai ilmu birokrasi organisasi dia bagi dengan bebas kepada kawan sekelas. Pernah dia menceritakan mimpinya kepadaku, mimpinya adalah membuat sekolah mandiri. Sebuah sekolah yang tidak terikat sistem kompetensi, dimana terdapat banyak jurusan dan kesempatan menjadi spesialis dalam berbagai bidang. Sebuah konsep yang harusnya sudah mulai dirintis di negara berkembang. Bukan itu saja, baskoro menuliskan penjelasan yang sangat mendetail mulai rincian biaya, struktur organisasi, sampai bagaimana menjadikannya standar pendidikan nasional dalam sebuah buku tebal. Buku itu adalah senjatanya, buku itu adalah visinya. Dan tulisan dalam sampulnya membuatku harus punya buku seperti itu satu, “Aku adalah manusia abadi, karena aku adalah visi dan visi tidak akan pernah mati”

3 tahun sudah kita bersama, dan ini tahun terakhir kita. Masih banyak yang belum kupelajari dari kalian. Kebersamaan sekaligus persaingan, empati sekaligus harga diri tinggi, semuanya teraduk dalam satu kelas ini.  Karena hidup adalah kepingan yang harus kita susun. Kita tidak akan pernah tau kemana, tapi tetap saja kita harus mencari. Mencari tiap kepingan dan menyusunnya untuk mengetahui tujuannya, dan  sebagian kepingan itu aku dapat dari kalian, guru kehidupanku.

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *