Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Gaming for Living

gaming for living

Gaming for Living merupakan impian setiap laki-laki yang menghabiskan malam minggunya dengan main game ditemani semangkuk mie instan dan es teh, termasuk saya. Meskipun pengalaman saya di dunia game bisa dibilang sangat kerdil, tetapi ijinkan saya menyampaikan hipotesis saya mengenai impian para gamer (termasuk saya) untuk “dibayar” hanya dengan ngegame.

Menurut hemat saya, sangatlah susah untuk mendapat penghidupan menjadi seorang gamer, apalagi di negeri Indonesia tercinta ini. Gamer luar negeri mendapat penghidupan dari kompetisi atau liga-liga game yang rutin diselenggarakan. Mereka kadang juga mendapat uang dari sponsor untuk memakai serta mempromosikan produk-produk sponsor yang biasanya berhubungan dengan game. Nah, di Indonesia ini sangatlah jarang adanya kompetisi yang digelar secara rutin, selain itu hadiah yang disuguhkan pun saya pikir tidak cukup untuk menghidupi gamer sampai kompetisi selanjutnya. Meskipun ada segelintir gamer Indonesia yang mampu menghasilkan uang dari kompetisi-kompetisi luar negeri seperti XcN, tetapi jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah gamer se-Indonesia. Ibaratnya seperti perbandingan jumlah cewek cantik modis dan cowok kumel tidak terurus di setiap fakultas teknik.

Bagi yang masih ngotot ingin menjadi gamer profesional mungkin anda harus bersiap mendaki bukit lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera.  Seorang gamer profesional tidak sekedar punya skill yang mumpuni, tetapi juga harus punya kemauan yang keras dan tahan banting. Untuk dapat dikenal di dunia game kancah nasional, gamer harus sering-sering ikut turnamen game, tidak hanya ikut tetapi juga harus sering menang. Rutin mengikuti turnamen game artinya banyak waktu yang harus dikorbankan, perlu waktu untuk latihan dan waktu untuk turnamen itu sendiri. Banyak diantara gamer yang jatuh terjebak dalam kejombloan yang amat sangat kelam karena mengejar kariernya.  Jam latihan seorang gamer profesional lebih mengerikan dibandingkan pegawai kantoran. Jika pegawai kantoran sehari-hari kerjaannya hanya bergosip di pantry, buka-buka facebook, dan efektif kerja hanya 3 jam, maka tidak demikian dengan seorang gamer profesional. Gamer profesional berlatih minimal 8 jam sehari dengan menu latihan bervariasi, mulai latihan taktik dan strategi, koordinasi team, sampai skirmish antar team. Latihan selama itu dibutuhkan agar respon, reflek, taktik dan konsentrasi seorang gamer tetap tajam.

Katakanlah anda adalah langganan juara turnamen dan mulai dikenal di kancah dunia persilatan game nasional. Maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah mencari sponsor, dan ini sangat tidak mudah. Sangat sedikit sponsor yang mau mensupport gamer, mungkin malah terbatas hanya pada perusahaan hardware/software atau majalah komputer. Sponsor harus benar-benar dibuat jatuh cinta dengan performa seorang gamer. Jika sudah punya sponsor maka hidup layaknya di surga, gamer akan mendapatkan fasilitas mewah dari sponsor dan akomodasi untuk kompetisi-kompetisi Internasional. Berdasarkan berbagai sumber, pendapat seorang gamer bisa sampai $ 1000 per bulan, malah kemungkinan besar lebih banyak. Segera nikmati surga anda selagi sempat, karena saya yakin pekerjaan nikmat ini tidak bertahan lama, akan saya jelaskan alasannya di paragraf selanjutnya.

Profesi gamer ini juga merupakan profesi yang tidak bisa anda pertahankan dalam jangka waktu lama. Gamer diharuskan memiliki kemampuan konsentrasi, reflek, kecepatan berpikir serta pengambilan keputusan yang tepat. Sayangnya kemampuan-kemampuan tersebut hilang dengan cepat seiring berjalannya umur.  Meskipun sekarang anda adalah gamer yang sangat hebat, tetapi coba banyangkan 5 tahun kedepan, apakah reflek anda masih selincah sekarang ? apakah konsentrasi anda masih bisa bertahan lama seperti sekarang ? Saya yakin ketika seseorang gamer menginjak umur 30an, maka dia akan sering mengalami kekalahan di game yang paling dikuasainya oleh gamer umur 17 tahun. Ketika gamer beranjak tua, dan gamer-gamer muda bermunculan maka gamer tua jelas tidak bisa bertahan.

Mungkin berbeda dengan Korea Selatan, di Korea Selatan gamer dikategorikan sebagai e-sport. Kompetisi dan Liga Game rutin diselenggarakan di sana, berbagai vendor elektronik berebut menjadi sponsor gamer yang berkualitas. Yang lebih gila lagi seorang gamer jagoan akan populer di kalangan para wanita di Korea. Mungkin dulu Park Ji Sung berhasil mengajak kencan Yoona SNSD setelah setelah mengalahkan Bapaknya Yoona dalam pertandingan Pro Evolution Soccer. Sekali lagi saya bangun dari mimpi, ini Indonesia bung ! Darah itu Merah Jendral! Tidak adanya kompetisi yang rutin dan dukungan dari vendor membuat gaming for living serasa mustahil. Mungkin beberapa puluh tahun lagi Indonesia bisa seperti Korea, tetapi tidak sekarang. Semoga ! Life On Play On !

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *