Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Investasi Rokok

Tulisan ini merupakan apresiasi saya setelah melihat film dokumenter Sex, Lies and Cigarettes yang bercerita tentang industri rokok di Indonesia.  Bagi yang belum melihat filmnya silahkan tonton dulu kemudian baru dilanjutkan bacanya.

Film tersebut bermula ketika dunia digegerkan oleh bocah merokok asal Indonesia yang bertempat tinggal di Lampung. Ada seorang jurnalis dari Amerika yang tertarik dengan fenomena tersebut dan memutuskan untuk melihat langsung dari sumbernya, Indonesia. Sesampainya di Indonesia dia begitu kaget karena Industri Rokok sangat maju tidak seperti di negaranya Amerika. Melihat iklan-iklan billboard di sepanjang jalan, melihat iklan2 rokok melalui televisi, melihat banyaknya acara anak muda yang disponsori oleh rokok, melihat warung rokok di depan sekolah dan banyak lagi hal yang membuatnya kaget. Di film itu jurnalis tersebut mengupas dengan sangat baik bagaimana industri rokok bisa sangat maju di Negara berkembang seperti Indonesia, bahkan ada wawancara dengan salah satu bekas pembuat iklan untuk Philip Moriss (pemilik perusahaan rokok Marlboro) mengenai target market dari industri rokok.

Film ini sangat menarik karena memperlihatkan berbagai macam fakta yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya tentang industri rokok. Memperlihatkan bagaimana wajah anak-anak muda, bahkan ada anak SD yang sudah merokok, miris. Dan memang benar, anak SD merokok di jaman sekarang tidaklah susah dicari, cukup datang saja ke game centre atau penyewaan playstation, kita akan menjumpai pemandangan mereka merokok dengan santainya. Rasanya ingin menyuruh mereka ngesot di depan kita lalu menendang mereka dengan kekuatan penuh ke arah gawang. Ga rela masa depan bangsa ini dipegang sama anak-anak ingusan yang notabene uang masih minta orang tua juga tapi ngerokok.

Dalam film tersebut juga disebutkan bahwa Industri rokok menarget pangsa pasar anak muda (bahkan anak kecil) sebagai bentuk investasi. Memang strategi yang sangat bagus dengan menginvestasikan kecanduan merokok sejak dini kepada anak-anak, dengan begitu rokok akan tetap laku bahkan sampai mereka dewasa. Akibatnya sudah jelas, uang akan mengalir deras ke industri rokok, dan industri rokok dengan uang tersebut akan memikat anak muda kembali dengan iklan-iklan menarik dan konser-konser memukau, lalu anak muda tertarik jadi bahan investasi mereka, dan berputar seperti itu seterusnya. Sebuah strategi bisnis yang bagus tapi sangat memuakkan, menjual kesehatan generasi muda.

Ada lagi hal janggal yang juga dibahas dalam film tersebut, yaitu hilangnya pasal yang menyatakan tembakau adalah zat adiktif pada RUU Kesehatan tepat satu hari sebelum ditandatangani oleh Presiden pada tahun 2009 lalu. Untuk lebih detailnya bisa dibaca beritanya di website kompas atau di website tempo . Tidak perlu orang pintar untuk mengetahui ada apa di balik hal tersebut. Industri rokok sudah melobi sedemikian dalam ke pemerintahan kita, karena jika pasal yang menyatakan bahwa tembakau adalah zat adiktif tidak dihapus, maka bisa dipastikan pasal tersebut akan berkembang menjadi peraturan/undang-undang turunan lain yang sangat mengekang Industri rokok dan bisa berakhir pada kemunduran besar Industri rokok di Indonesia.  Ya ! 1 – 0 untuk kemenangan industri rokok.

Memang dulu saya merokok, saya sempat merasakan bagaimana industri rokok dalam mengembangkan marketnya. Bahkan sempat waktu itu ada  penawaran menarik dari rokok dengan merk tertentu bahwa 3 bungkus rokok akan ditukar dengan sepiring mie goreng. Siapa coba mahasiswa yang tidak tergiur dengan tawaran itu ? alhasil saya pun merokok merk tersebut dengan lebih sering, padahal imbalannya hanya sepiring mie goreng. Saya juga merasakan ketika saya nongkrong di kantin dan dihampiri SPG rokok yang cantik-cantik, membujuk saya supaya menukar rokok saya dengan merk yang ditawarkan SPG itu. Kenapa sih harus cantik ? kan bikin laki-laki tergoda dengan mudah. Untung saja saat itu kampus saya menolak sponsor rokok untuk kegiatan apapun, sebuah peraturan kampus yang bagus. Karena jika sponsor rokok masuk kampus, artinya dengan mudah pangsa pasar mahasiswa direbut oleh Idustri rokok tersebut. Kemudian saya berhenti merokok ketika saya lulus, banyak perubahan yang terjadi karena rokok pada badan saya, mulai dari sering batuk-batuk sampai stamina yang turun drastis yang saya ketahui ketika saya ngos-ngosan setengah mati saat bermain futsal. Selain itu rokok juga merupakan investasi yang sangat buruk bagi saya di masa mendatang.

Saya tidak bilang kalau pemerintah selama ini tidak ada usaha untuk membendung industri rokok. Banyak usaha yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Akan saya beri contoh beberapa usaha yang dilakukan oleh pemerintah :

  • Diterbitkannya beberapa perda larangan merokok di beberapa kota besar ( misalnya : Jakarta, Makasar, Surabaya  dan Yogyakarta). Memang tidak semua kota sudah menerbitkan itu. Perda itu saya rasakan ketika saya masuk di salah satu mall di Surabaya dan mendapati tulisan tentang sanksi sebesar 50 juta (kalau tidak salah) jika  ada orang yang melanggar ketentuan tersebut. Mau tau seperti apa bentuk perda itu, silahkan di lihat di sini (ini merupakan perda Yogyakarta).
  • Bukan Cuma perda, tapi juga ada SK (Surat Keputusan) Direksi beberapa BUMN tentang larangan merokok di tempat kerja juga dikeluarkan. Pertamina, Bank Mandiri, PLN, dan mungkin BUMN lain sudah melakukannya. Bahkan sanksi yang diterapkan cukup berat, mulai dari penurunan jabatan sampai hilangnya tunjangan kesehatan. Mungkin tulisan Dahlan Iskan yang terkenal dengan sebutan CEO Note saat beliau menjabat sebagai Direktur Utama PLN cukup bisa memberi pandangan mengenai hal ini.

Akan tetapi menurut saya hal tersebut belum cukup untuk menekan sepak terjang industri rokok. Beberapa langkah yang saya pikirkan ini mungkin bisa jadi pertimbangan juga meskipun masih tergolong pemikiran yang dangkal :

  • Jika banyak sekali iklan tentang rokok di sekitar kita mulai dari TV, Radio, Billboard, bahkan sampai tembok rumah yang dicat, tapi kenapa tidak ada satupun iklan layanan masyarakat mengenai anti rokok ? Secara iklan layanan masyarakat dari pemerintah yang sering saya temui adalah mengenai lalu lintas dan anti narkoba. Iklan adalah salah satu cara mempengaruhi orang banyak sekaligus dengan mudah, apalagi kalau iklan yang ditampilkan merupakan iklan yang kreatif dan informatif. Oleh karena itu, banyaknya iklan rokok di media saat ini juga harus diimbangi dengan iklan layanan masyarakat anti rokok.
  • Yang kedua adalah masalah cukai. Mempermahal cukai rokok adalah ide yang bagus menurut saya. Dengan menaikkan cukai rokok akan berakibat harga rokok juga naik, dan jika harga naik maka bisa dipastikan konsumen yang dapat mengkonsumis rokok adalah konsumen kelas menengah atas. Hal ini bisa menghindarkan masyarakat yang tidak mampu untuk tetap memaksakan membeli rokok, bahkan saya yakin akan bisa menghindarkan anak-anak dalam merokok. Bayangkan seorang pengamen dengan pendapatan 30ribu tetapi digunakan untuk membeli rokok 10ribu perhari (seperti yang ada di film tersebut), atau lihat berapa banyak anak balita yang sudah merokok dengan lancar di youtube. Miris bukan ?! Oh ya masalah cukai ini saya ambil dari kajian tentang aspek ekonomi tembakau yang dapat diunduh di sini.

Dalam debat perokok vs anti rokok seringkali kita dapati debat itu sampai pada pembelaan sang perokok “kalau Industri rokok ditutup, bagaimana nasib rakyat-rakyat kecil yang hidup dari rokok ? petani tembakau misalnya, mereka kan tidak sedikit jumahnya”. Tapi melihat fakta di sekitar kita bahwa banyak anak-anak muda yang bahkan masih usia sekolah sudah merokok, sepertinya saya lebih rela melihat para petani itu kehilangan pekerjaan daripada melihat generasi muda mulai kecanduan.  Banyak juga masyarakat yang kurang mampu secara finansial tapi malah merokok, coba lihat tukang becak, tukang bangunan, pengamen, dll. Berapa banyak uang pemerintah keluar melalui jaminan kesehatan yang digunakan untuk merawat para perokok sakit yang kurang mampu secara finansial? apakah memang lebih sedikit dari pendapatan cukai rokok ? saya pikir tidak. Rokok membunuh setidaknya 200.000 orang per tahun. Yang jadi masalah disini adalah jika 200.000 orang itu adalah orang-orang dalam usia produktif. Negara kehilangan orang produktif sebanyak itu selama setahun adalah masalah besar karena negara kita masih dalam tahap berkembang.

Kesimpulan saya adalah tidak masalah industri rokok masuk Indonesia, hanya saja target yang mereka incar itu salah. Menginvestasikan kecanduan kepada generasi muda membuat bangsa ini menjadi tidak sehat kedepannya. Amerika menyadari hal ini sehingga mereka mengeluarkan undang-undang yang  benar-benar menekan industri rokok, silahkan lihat website FDA (Food and Drug Administration) sebagai buktinya. Di sana akan didapatkan banyak sekali regulasi atau peraturan yang mengatur tentang rokok, selain itu juga terdapat himbauan-himbauan dari pemerintah tentang bahaya rokok. Peraturan / Undang-undang tentang rokok di Indonesia ini masih kalah “kejam” dibandingkan undang-undang tentang rokok di Amerika. Lalu masalahnya kapan Indonesia sadar ? Dan siapa yang akan menyadarkan Indonesia kalau bukan kita sendiri ? Semoga tulisan ini dapat membuka mata kita.

  • Share on Tumblr

No Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. The Blue Nowhere | oiasatria - [...] isu-isu, kampanye dan ide-ide melalui video, seperti yang pernah saya bahas di tulisan saya tentang investasi rokok atau isu…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *