Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Kill the Messenger

kill-the-messenger

Social media itu seperti patah hati, bisa mengubah seseorang 180 km. Tidak terhitung berapa banyak teman-teman saya yang dulu saya kenal sebagai pribadi yang kalem dan santun bak Putri Solo belum sarapan berubah menjadi Industri Rumah Tangga dengan produk utama hoax dan provokasi kualitas KW. Share sana share sini tanpa peduli, seolah-olah memperjuangkan sesuatu padahal cuma ilusi, biar kelihatan militan seperti sisa makanan di sela-sela gigi.

Adek Sedih. Apa tidak ada pikiran untuk melawan hoax dan provokasi itu ?

Cara termudah untuk melawan provokasi dan hoax adalah Kill The Messenger, serang sumber berita. Lihat dulu dong itu berita dari mana,  websitenya kredibel atau tidak, reputasi penulis, pesan eksplisit pada berita, dll. Kok rasanya seperti tidak ada waktu untuk mencari tahu, apa kalian terlalu sibuk syuting ? Padahal sudah saya tulis caranya di sini.  Apa perlu saya tulis petisi agar ada pelajaran Pendidikan Moral Internet di kurikulum sekolah ?

Teman-teman yang merasa terprovokasi ya jangan menanggapi. Cara menanggapai dengan baik dan mudah adalah dengan tidak menanggapi. Biarkan anjing menggongong, kafilah berlalu, si kuning mengambang. Menanggapi hanya membuang-buang waktu, sementara waktu adalah jam. Kita bisa menggunakan waktu untuk hal lain yang lebih berguna,  untuk makan misalnya, karena obesitas itu ibadah.

Saya teringat perkataan seorang Bartender legendaris yang jaman dulu bisa membuat seluruh orang dalam acara kawinan mabuk hanya dengan air putih, “Apa yang keluar dari sosmed seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari sosmed orang, timbul segala pikiran jahat, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. “

Hati-hati !

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *