Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Menjadi Manusia Seutuhnya

memasak

“Cooking”

Yap! Memasak adalah salah satu hal yang membuat kita menjadi manusia. Seperti yang tertulis di artikel berikut ini http://news.nationalgeographic.com/news/2012/10/121026-human-cooking-evolution-raw-food-health-science/.

Sudah dibaca artikel itu ? pasti belum, dasar pemalas. Saya coba simpulkan sedikit dari artikel tersebut.

Penemuan manusia purba yang paling hebat adalah api. Api merupakan komponen penting dalam memasak. Bahkan dalam artikel tersebut disebutkan juga bahwa sebenarnya yang bisa membuat kita jadi manusia seutuhnya adalah menggunakan api untuk memasak.

Faktanya makanan yang sudah dimasak akan terserap 100% nutrisinya oleh tubuh dibandingkan makanan mentah, makanan mentah hanya mampu terserap nutrisinya sebesar 30-40%. Nutrisi yang terserap lebih banyak menjadikan kita pintar dan ber-akal berbudi. Seperti yang pernah kita pelajari saat SD, bahwa yang membedakan kita (manusia) dengan mahkluk lainnya adalah memiliki akal budi, dan berdasarkan hipotesis saya akal budi itu didapat dari nutrisi makanan yang kita masak sehari-hari.

Kenyataan mencengangkan di atas membuat saya ingin melakukan eksperimen penting. Jika saya memberi makanan yang dimasak misalnya nasi rawon pada kera sedari kecil setiap hari, apakah nantinya kera itu akan jadi sepintar manusia ? Sangat masuk akal. Bahkan bisa jadi “memasak” adalah missing link pada teori evolusi Darwin.

Bisa Masak itu Super Penting ! Setelah berkeluarga saya menyadari betapa pentingnya ada seorang koki dalam sebuah keluarga, entah itu suami atau istri. Mengingat kemampuan memasak saya maksimal hanya omelette du fromage (telur orak arik), maka istri sayalah yg berperan besar sebagai chef dalam keluarga dengan masakan andalan sup merah yang rasanya seperti menenggelamkan seluruh bangsa Mesir. Masakan istri saya tidak hanya membuat dia menjadi manusia, tetapi membuat seluruh keluarga kecil saya menjadi manusia seutuhnya.

Saya berani taruhan nasi goreng kambing spesial pakai telor bahwa orang-orang yang terkena penyakit modern seperti kolesterol, diabetes, asam urat, dll adalah orang-orang yang sering makan di luar rumah. Karena bisa dibilang hanya masakan rumahlah yang paling sehat dan bergizi. Kita memilih sendiri bahan-bahan mentahnya. Kita bisa memilih bahan-bahan kualitas premium seperti beras merah, sayur organic, minyak kelapa, telur ayam kampung, dll untuk memasak makanan kita sendiri, bahkan kita juga bisa memasak sambel goreng kaviar jika mau (dan mampu). Bisa dibandingkan makanan warung/restoran yang memasak dengan mengedepankan kuantitas bukan kualitas untuk mengejar keuntungan. Lihat saja minyak goreng yang dipakai di warung-warung tenda, sudah berapa kali pakai itu minyak ? atau jika beli nasi goreng, berapa banyak penyedap yang dimasukkan ? Tidak bermaksud untuk menyudutkan para pemilik warung. Saya sendiri juga sekali-kali makan di warung kok, hanya saja warung-warung tersebut bagi saya tidak boleh menjadi menu utama makanan sehari-hari.

Dalam segi ekonomis, memasak juga berarti berhemat. Dulu sewaktu Bill Gates masih satu kos dengan saya, setiap hari Bill Gates selalu masak nasi dengan lauk tempe goreng dan sambel terasi yang hanya menghabiskan maksimal 10 ribu rupiah saja per harinya. Uang hasil penghematan tersebut digunakan Bill Gates untuk merintis usaha penjualan jendela. Dan sekarang lihat saja pabrik Jendela Bill Gates yang sudah Go International.

Selain demi kesehatan dan penghematan, masakan rumah adalah romantisme tersendiri. Masakan rumah merupakan akar dari sebuah kerinduan. Apa iya kamu yang sekarang merantau tidak kangen masakan emakmu ? Nah, makanya demi dikangenin anak-anakmu nanti dan demi menjadi manusia seutuhnya, belajarlah memasak dari sekarang.

  • Share on Tumblr

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *