Pages Navigation Menu

my official site to waste my time

Teknologi Duren

Teknologi Duren

Apa yang akan membunuhmu pelan-pelan secara nikmat selain duren ?

Jawabnya adalah Teknologi, hanya saja kamu tidak akan terkena kolesterol dulu sebelum mati.

Teknologi bukan lagi ibarat pedang bermata dua, melainkan ibarat Keris Mpu Gandring. Suatu senjata yang diperebutkan banyak orang tapi berakhir dengan ending yang mengenaskan, sebuah kutukan yang membunuh 7 turunan.

Mau tahu kutukan keris ini ?

Saya seringkali melihat anak-anak yang masih ingusan, bau kencur dan kencing saja tidak lurus memegang gadget yang lebih canggih dari punya saya. Selain perasaan saya yang tercabik-cabik melihat gadget saya sendiri yang lebih mengenaskan dari mereka, timbul juga perasaan miris dalam hati. Setelah berpikir secara kontemplatif selama sekitar 2 menit, akhirnya saya mengambil suatu kesimpulan yang cukup mencengangkan. Orang tua mereka pasti tidak romantis, tidak jago menggombal, dan tidak tahu kalau sudah ada buku 1000 sms gombal di Gramedia. Bagaimana tidak, gombal mereka tergantikan dengan gadget yang dipegang anak-anak mereka. Saya dan kalian nantinya adalah orang tua yang akan menggombal lagi secara brutal kepada anak-anak terutama yang masih bau kencur tadi. Untuk Apa ? supaya anak-anak tenang, dan mampu bersikap di dengan baik di depan umum.

Setelah menjadi orang tua dari anak yang tidak mirip saya, saya semakin menghargai usaha orang tua mendiamkan anak-anak mereka yang rewel di tempat umum. Sering saya menjumpai mereka terutama di kendaraan-kendaraan umum seperti bus, pesawat, kereta, dll menggombal untuk membujuk anak mereka yang rewel dengan gombalan yang out of the box seperti “Dek lihat itu ada ikan lele banyak” sambil menunjuk ke luar jendela bus, mungkin busnya sedang tercebur kolam. Ya! Saya ingin jadi orang tua romantis yang mampu menggombal lebih baik dari itu untuk anak-anak saya, dan memberikan gadget kepada anak yang belum cukup umur jelas mematikan kreatifitas bergombal saya nantinya.

Kutukan yang paling parah dari Teknologi adalah Technology kills creativity.

Baca dulu artikel ini. Saya sampai syok setelah membaca artikel tersebut. Bagaimana mungkin teknologi yang notabene diciptakan secara kreatif malah membunuh kreatifitas itu sendiri. Jawabnya sederhana, teknologi meniadakan bahan bakar utama kreatifitas. Ga ngerti kan !? dasar kalian manusia biasa.

Begini pemirsa, Kreatifitas berasal dari imajinasi dan kita banyak berimajinasi ketika sedang bosan. Nah, teknologi ini mengisi kebosanan kita. Jangan remehkan rasa bosan lho, karena hanya saat bosan kita ber-refleksi (bukan pijat cuk), kita berpikir out of the box saat bosan. Tetapi sekarang ketimbang memikirkan bagaimana inflasi bisa begitu tinggi saat kita pup, kita malah menjelajahi sosmed. Memang hal ini tidak begitu berpengaruh banyak pada orang dewasa, tetapi pada anak-anak pengaruhnya cukup basar. Rasa bosan harus dikembalikan pada anak-anak agar mereka dapat berpikir, berimajinasi dan bertanya tentang banyak hal. Jadi memberi gadget pada anak-anak berarti mematikan kreatifitas mereka sendiri.

Tapi tapi tapi pendidikan Indonesia malah tidak mendukung hal ini. Sekarang sekolah-sekolah yang maju malah berpikir sebaliknya, sekolah-sekolah itu memfasilitasi anak-anaknya dengan komputer/laptop, dsb,. Tapi apa perlunya itu ? Tidak ada gunanya bisa mengetik 10 jari dan bisa mengusai aplikasi office tetapi tidak tahu apa yang harus ditulis. Mungkin di masa depan kita tidak perlu mengetik, tidak perlu menguasai banyak menu-menu dalam aplikasi office, tapi cukup bicara dan computer akan melakukannya. Bukankah kita sudah melihat cikal bakalnya pada Siri dan Google Talk. Akan lebih baik mengganti pelajaran komputer di sekolah-sekolah maju itu dengan memperbanyak jam pelajaran B. Indonesia, menggambar, dan olah raga, supaya kita tahu bagaimana cara menulis yang baik, menggambar yang indah dan melompat yang tinggi.

Saya yang pernah jadi programmer ini sadar, bahwa semua program/teknologi diciptakan untuk memudahkan, dan akan semakin mudah seiring perkembangan jaman. Tidak perlu lah kita ini bangga karena anak kita bisa menggunakan komputer, tablet, handphone, dll, karena menguasai hal-hal tersebut tidaklah lama. Beri anak sebuah tablet sekarang, maka besoknya mungkin dia sudah bisa upload foto selfie ke sosmed. Tetapi beri anak sebuah kertas, bisa ga dia menggambar atau menulis seuatu yang hebat ?

Ya begitulah, memang ada saat-saat yang tepat kita membutuhkan teknologi ini, tetapi tidak saat masih anak-anak.

Tulisan ini juga bukti hasil kebosanan saya menunggu pesawat yang 5 jam lamanya, tapi harusnya saya menunggu sambil main dota saja.

  • Share on Tumblr

One Comment

  1. gaya nulismu lo mas, keep writing yo wakak

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *